Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seseorang dengan kerendahan hatinya dibalik segudang prestasi yang diukirnya. Saya pikir hanya saya yang terinspirasi dengannya.Tapi tidak. Semua orang yang kenal dengannya pasti terinspirasi. Ditulis untuk dijadikan dalam bahan pembelajaran yang akan menginspirasi kita. Seorang kawan dan sahabat kami semua sebagai ANGSTROM HERO52 yaitu Ahmad Akbari. Pertama berkenalan dengan abay (nama panggilan ahmad akbari) di masa POSA/MOS SMAKBO2006. Dalam suatu acara sehingga kami prasa/prasi diwajibkan untuk menyanyi yang nantinya akan kami persembahkan kepada orang tua kami, disitulah saya berkenalan dengan abay. Saat itu saya berada dalam satu barisan dengannya pada kelompok suara tenor.

Siapa yang sangka, kalau saat ini dialah sumber inspirasi saya. Dalam tahap sebagai murid baru, maka kami semua harus menjalankan psikotes dan menjalani test TOEIC.  Setelah pengumuman serangkaian tes yang kami jalani, ternyata kelas abay berada dalam RSNBI (Rintisan Sekolah Nasional Bertaraf Internasional). Dia masuk ke dalam dua puluh empat orang yang berhak belajar dalam ruang AC dengan laptop dan LCD. Sedangkan saya??termasuk ke dalam enam orang yang menjadi cadangan kelas ini. Ternyata abay mengundurkan diri dari kelas itu. Sinting memang. Banyak murid yang ingin masuk ke kelas itu tetapi dia malah keluar. Setelah saya tanya dia, dia menjawab dengan jawaban yang hebat,”belajar bahasa inggris gag mesti masuk kelas RSNBI kan??”, tuturnya. Hebat, sebuah kebijaksanaan dari seorang anak yang baru menginjak masa SMA.

Satu semester awal sekolah pun akhirnya berlalu, dan ternyata dia menjadi juara kelas. Bukan sekedar juara kelas, tetapi juara yang siap ada untuk kita, juara yang ada untuk mengajarkan dan membagi ilmunya kepada kita. Juara yang diseganin dengan segala kharismatik yang ada padanya. Hingga kami semua memanggilnya JU (Juara Umum). Kiranya itu adalah sebuah doa, ternyata semester berikutnya dialah yang menjadi  juara umum di kelas satu.

Bukan sekedar prestasi di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Mungkin IPB pernah mengukir namanya dalam sebuah piagam penghargaan sebagai juara pertama dalam lomba cepat tepat. Berbicara organisasi, tidak perlu diragukan lagi, dia aktif dalam segala kepanitiaan yang ada. Bahkan kalo dibilang dia orang pentingnya angkatan saya. Bahkan sekarang dia aktif dalam acara ESQ dan dia berperan dan menjadi ATS nya.

Orang yang penuh inspirasi dan memberikan inspirasi pada saya. Hal yang mungkin sekali bagi abay untuk melanjutkan kuliah di IPB dengan segudang prestasinya. Bahkan dia bisa diterima UI dengan mudah pada jurusab kimia rasnya. Tetapi dia ingin melanjutkannya ke ITB pada FTTM. Walaupun tahun ini dia belum diterima karena keterbatasan jalur yang ada untuk siswa SMK yang peluangnya kecil dan keterbatasan materi yang berbeda dengan SMA biasa. Terlepas dari itu dia mengisi setahun yang akan datang dengan menjadi guru sambil belajar kembali materi-materi SMA. Luar biasa pekerjaan yang sangat mulia. Ini jejak yang akan dibuat abay. Ini yang akan menjadi pembeda dia dengan orang lain. Saya selalu berdoa untuk kawan/sahabat/saudara saya,semoga  dengan keikhlasan dan kerendahan hatinya,dengan ketekunannya, dengan apa yang pernah abay ajarkan pada saya, dan dengan keyakinan diri saya pribadi saya yakin  abay bisa menggapai cita-citanya bahkan lebih.amin.

Saya dilahirkan di  Jakarta, peranakan Jawa, karena bapak dan ibu lahir di Jawa,tetapiitinggal di kota urban Bekasi. Sejak kecil saya dididik cukup keras tanpa melupakan kasih sayang dari kedua orang tua tentunya. Bapak dengan perawakannya yang besar dengan watak yang keras mendidik saya untuk terus belajar. Cukup aneh memang, kedua orang tua saya lebih senang memberikan saya buku daipada mobil-mobilan. Ibu saya seorang wanita hebat, beliau membangunkan saya untuk sholat subuh ketika berangkat ke kantor. Ketika saya hendak ke sekolah semua makanan sudah tersedia. Luar biasa memang seorang Ibu.

Dididik untuk belajar maupun bekerja. Tidak sekedar membaca buku tetapi belajar dari alam begitu kata beliau. Tadinya suatu keterpaksaan yang membuat saya setiap malam bergelut dengan buku. Hal yang paling membosankan rasanya. Diwaktu kecil dengan bimbingan Ibu, saya belajar membaca,menulis maupun menghitung di tengah hiruk pikuk kawan yang sedang bermain di gang-gang kecil rumah. Kadang rasa ingin bermain itu lebih besar daripada sekedar belajar “menulis halus”. Kadang berkumpul dan bercanda dengan teman-teman lebih mengasyikkan daripada menghafal perkalian.

Belajar berdisiplin diri, bukan berarti mengekang, begitulah kira-kira gambaran orang tua saya saat mengajarkan. Ya memang benar. Belajar di sekolah sampai waktunya, pulang kemudian mengaji,sore bermain bola bersama teman sudah cukuplah melepas gejolak masa-masa kecil yang paling indah. Bahkan lebih indah daripada yang saya tuliskan. Lebih dari itu. Padahal mereka hanya meminta saya belajar mengulang kembali pelajaran pada malam hari. Menggerutu pastinya ketika ingin bermain tetapi diperintah dengan hal yang paling membosankan sedunia. Rasa malas itu menjuarai dan memboikot otak saya ketika diperintah untuk mengaji ataupun belajar. Tapi itu dulu, sewaktu saya hanya tahu kalau hidup itu ya sesederhana mencoret-coret dinding rumah dengan spidol. Kini sedikit berubah, walaupun perubahan abstrak yang tak terukur dalam suatu skala panjang atau berat. Terasa banget sampai sekarang dengan kebiasaan sejak kecil merubah saya menjadi terbiasa sampai saat ini.

Kalo dipikir-pikir ulang lagi, saya tinggal di lingkungan yang tidak terlalu kondisif dalam masa perkembangan kehidupan saya. Ya, kira-kira dulu banyak anak muda yang kerjaanya hanya nongkrong dan mabok, luntang lantung tidak jelas. Kemudian Orang Tua saya mengajarkan apa yang saya butuhkan untuk kedepannya. IPTEK ataupun IMTAQ. Bukan isolasi ataupun inokulasi yang orang tua saya lakukan,ya tetapi mereka memberikan gambaran apa yang saya butuhkan ketika saya sudah dewasa. Bukan membatasi pergaulan. Saya dibebaskan untuk bergaul dengan siapapun, tapi mereka mewanti-wanti untuk tetap menjunjung apa yang telah agama ajarkan.

Mungkin kalo dilihat orang, sebuah inspirasi yang tidak terlalu banyak dari diri saya. Ya…cukup lah. Di tengah krisis pendidikan di lingkungan saya, saya berhasil memulai dan bersiap belajar dalam jenjang yang lebih tinggi. Membanggakan bagi Orang Tua karena orang tua bukan lulusan dari universitas, dan hanya tamatan sekolah lanjutan tingkat atas. Cukup hanya perubahan kecil yang akan membuat perubahan-perubahan besar hidup saya. Belajar,haus akan ilmu,pergi ke masjid, itu semua yang alhamdulillah menjadikan saya tauladam di sekitar rumah. Kini saatnya berprestasi yang lebih pada setiap kesempatan yang ada. Di tempat inilah jejak akan terukir kembali untuk diri saya nantinya di masa depan.Jadi inget pesen Bapak,“Belajar tidak hanya dari buku, perhatikan sekeliling kita, lihatlah alam sekitar, belajarlah dari situ”.